
PESAWARAN, sinarlampung.co – Ruang kerja Wakil Bupati Pesawaran siang itu terasa hangat. Di balik meja besar, sosok pria kelahiran 14 September 1982 ini menyambut kedatangan sinarlampung.co dengan senyum khasnya. Tidak ada kesan kaku, yang ada justru bincang santai yang mengalir, Rabu 8 April 2026.
Siapa sangka, pria yang kini mendampingi Nanda Indira Bastian memimpin Kabupaten Pesawaran ini pernah mencicipi getirnya kehidupan di titik nadir. Sebelum melenggang di panggung politik nasional dan daerah, Antonius—atau yang akrab disapa Anton—adalah seorang petarung di dunia usaha.
Namun, dunia bisnis tak selamanya ramah. Ia sempat tertipu habis-habisan hingga hartanya terkuras. “Saya pernah jatuh di titik paling sulit. Harta habis, sampai harus mengontrak rumah,” kenang Anton dengan tatapan menerawang.
Bahkan, pendidikan S2-nya yang tinggal selangkah lagi menuju meja tesis terpaksa dikorbankan. Ia memutuskan cuti demi menyambung hidup. “Saat itu keputusan berat, tapi keadaan memaksa saya untuk berhenti sejenak dan mulai lagi dari nol.”
Merantau dan Takdir di Ibu Kota
Luka di dunia usaha menjadi titik balik. Anton memutuskan merantau ke Jakarta, mencoba peruntungan di jantung kekuasaan. Garis tangan membawanya menjadi Tenaga Ahli di DPR RI sejak 2009. Di sanalah, kemampuannya berorganisasi yang ia asah sejak di SMA Negeri 10 Bandar Lampung dan Unila mulai terlihat.
Kesetiaannya di Partai Gerindra membawanya masuk ke lingkaran elit DPP sebagai Wakil Sekjen selama dua periode (2015-2025). Meski sempat gagal saat mencoba peruntungan sebagai Caleg, Anton tak patah arang. Baginya, politik adalah pengabdian, bukan sekadar hitung-hitungan menang kalah.
“Menjadi Wakil Bupati ini sebenarnya bukan tujuan awal saya bang. Entah kenapa jalannya ke sini, masih seperti mimpi saya rasanya,” selorohnya sembari tertawa kecil.
Ada cerita unik saat masa kampanye Pilkada 2024 lalu. Nama depannya, “Antonius,” sempat membuat warga salah paham. Banyak yang mengira dirinya adalah seorang Nasrani yang baru masuk Islam (mualaf) karena embel-embel “Muhammad Ali”.
“Waktu kampanye dulu, saya dikira Nasrani karena namanya Antonius. Padahal kita ini Muslim tulen sejak lahir,” ujarnya mengenang momen lucu saat harus menjelaskan identitas aslinya kepada masyarakat.
Anton memang putra asli Lampung yang besar di Bandar Lampung. Ia adalah sosok religius yang telah dikaruniai tiga anak dari pernikahannya dengan Aria Sandi.
Antara Organisasi dan Pengabdian
Rekam jejak Anton bukan kaleng-kaleng. Sejak muda, ia adalah Ketua Muli Mekhanai Provinsi Lampung (2004) dan aktif di berbagai organisasi kepemudaan hingga nelayan. Pengalaman belasan tahun sebagai Tenaga Ahli di Senayan menjadikannya sosok yang paham betul bagaimana birokrasi dan regulasi seharusnya bekerja.
Kini, duduk sebagai orang nomor dua di Bumi Andan Jejama periode 2025-2030, Antonius Muhammad Ali tak ingin larut dalam euforia kekuasaan. Pahitnya masa lalu saat “habis-habisan” tertipu menjadi pengingat abadi baginya untuk tetap membumi.
Bagi Anton, jabatan ini adalah mandat untuk memastikan tak ada lagi masyarakatnya yang harus merasa sendirian saat jatuh di titik tersulit, seperti yang pernah ia alami belasan tahun silam. (Juniardi)