
Jakarta, sinarlampung.co – Nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren pelemahan tajam hingga menembus level psikologis baru. Pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026), mata uang Garuda anjlok ke posisi Rp17.105 per dolar AS, melemah 70 poin atau 0,41 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data Bloomberg, posisi ini menjadi level terendah rupiah sepanjang sejarah, melampaui rekor terburuk sehari sebelumnya di level Rp17.038. Angka ini bahkan telah melewati titik nadir saat Krisis Moneter 1998 (Rp16.800) maupun masa pandemi Covid-19 (Rp16.600).
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengonfirmasi bahwa tekanan luar biasa terhadap rupiah dipicu oleh sentimen risk-off global. Kekhawatiran pelaku pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah membuat investor cenderung menjauhi mata uang negara berkembang.
“Rupiah tertekan oleh sentimen risk-off akibat kekhawatiran perang di Timur Tengah. Saat ini pasar masih terbelah; sebagian masih berharap pada perdamaian, namun sebagian lainnya sudah mengantisipasi eskalasi lebih lanjut,” ujar Lukman, Selasa 7/ April 2026.
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak mentah dunia yang terus berlanjut menjadi beban tambahan bagi anggaran pemerintah. Kondisi ini kian pelik mengingat pemerintah belum melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Lukman memperingatkan potensi pelebaran defisit anggaran yang bisa melampaui batas aman 3 persen, meski terdapat penyesuaian pada anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG). “Dampaknya adalah penurunan daya beli masyarakat dan potensi lonjakan inflasi, terutama jika harga BBM akhirnya dinaikkan. Jika sentimen terus melemah, pertumbuhan ekonomi dalam negeri terancam merosot,” pungkasnya. (Red)