
Jakarta, sinarlampung.co – Nama Muhammad Suryo (MS) kembali menjadi perbincangan hangat di tengah pengusutan dugaan korupsi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai oleh KPK. Pengusaha yang dikenal sebagai bos rokok merek HS ini kini berada di bawah radar hukum, memicu keingintahuan publik atas rekam jejak dan skala bisnis yang dimilikinya.
Kasus Bea Cukai: KPK Periksa Bos Rokok Asal Lampung Muhammad Suryo
Lahir di Lampung pada 27 Maret 1984, Muhammad Suryo menghabiskan masa kecil dan pendidikan menengahnya di Lampung Timur. Sebelum merambah skala nasional, ia sempat menetap di Bengkulu, tempat di mana insting bisnisnya mulai terasah.
Perjalanan bisnisnya dimulai dari sektor mikro, yakni usaha air minum isi ulang. Namun, dalam waktu relatif singkat, ia berhasil melakukan ekspansi agresif ke sektor konstruksi, minyak dan gas, properti, hingga logistik.
Gurita Bisnis Surya Group
Titik balik kejayaannya terjadi pada tahun 2016 dengan berdirinya Surya Group Holding Company di Yogyakarta. Di bawah payung grup ini, bisnisnya menggurita ke berbagai sektor strategis.
Melalui PT Surya Karya Setiabudi (PT SKS) yang berdiri pada 2015, grup ini menguasai lini produksi beton siap pakai (readymix), hotmix asphalt, hingga penyewaan alat berat di wilayah DIY dan Jawa Tengah. Memiliki konsesi penambangan pasir dan material konstruksi di kawasan strategis, termasuk area Gunung Merapi.
Melalui PT Gisara Tantra Berkarya, ia memproduksi rokok merek HS sejak 2024 di Magelang. Ekspansi terbarunya mencakup pembangunan pabrik besar di Lampung Timur yang ditargetkan menyerap ribuan tenaga kerja lokal. Merambah dunia kargo udara melalui maskapai Fly Jaya guna memperkuat rantai distribusi logistik lintas wilayah.
Keberhasilan Suryo membangun imperium bisnis dalam waktu kurang dari satu dekade kini diuji oleh proses hukum di KPK. Keterkaitannya dalam kasus Bea Cukai memunculkan spekulasi mengenai kedekatan operasional bisnis manufaktur rokok dan kargo miliknya dengan mekanisme pengawasan kepabeanan.
Hingga saat ini, Muhammad Suryo masih berstatus sebagai saksi dan proses penyelidikan terus bergulir. Meski demikian, luasnya jaringan usaha yang ia kendalikan—terutama di sektor yang bersentuhan langsung dengan cukai dan kargo—menjadikan profilnya sebagai titik sentral dalam pengembangan kasus korupsi tersebut. (Red)