
Catatan Dua Mahasiswa Hanyut di Wira Garden
Provinsi Lampung dianugerahi bentang alam yang luar biasa, mulai dari garis pantai yang memukau hingga aliran sungai yang membelah pegunungan. Namun, tragedi hanyutnya dua mahasiswa di aliran sungai sebuah destinasi wisata baru-baru ini menjadi tamparan keras bagi wajah pariwisata kita. Insiden ini menegaskan bahwa membangun pariwisata bukan sekadar soal keindahan spot selfie (swafoto), melainkan soal komitmen pada nyawa manusia.
Tragedi Wisata Wira Garden: Dua Mahasiswi Unila Hilang Terseret Banjir Bandang
Dua Mahasiswa Unila Hanyut, Wira Garden Dinilai Harus Bertanggung Jawab Soal Standar Keselamatan
Selama ini, tren wisata di Lampung cenderung terjebak pada “estetika visual”. Pengelola berlomba-lomba membuka lahan, membangun jembatan gantung, atau menyediakan akses ke batu-batu sungai demi mengejar kunjungan wisatawan. Namun, aspek fundamental seperti mitigasi bencana seringkali diletakkan di urutan terakhir.
Kritik tajam yang dilontarkan Direktur Lembaga Konservasi 21 (LK21), Edy Karizal, mengenai absennya Early Warning System (EWS) di hulu sungai adalah fakta pahit. Bagaimana mungkin destinasi wisata berbasis air tidak memiliki sistem deteksi dini debit air?
Ini adalah bentuk pengabaian yang sistematis. Pengelola tidak boleh hanya mau menerima uang tiket, tetapi enggan berinvestasi pada sistem keselamatan yang mumpuni seperti pemandu terlatih dan alat penyelamatan.
Lemahnya Pengawasan dan Regulasi
Pemerintah daerah tidak bisa lepas tangan. Pemberian izin usaha pariwisata jangan hanya dilihat sebagai mesin pendulang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ada tanggung jawab moral dan hukum untuk melakukan evaluasi berkala.
Jika sebuah objek wisata tidak memenuhi standar keselamatan—seperti tidak adanya tanda peringatan bahaya atau pemantauan debit air saat musim hujan—maka pemerintah harus berani mengambil tindakan tegas. Penutupan sementara atau pencabutan izin adalah harga yang pantas demi menghindari jatuhnya korban jiwa lebih lanjut.
Pariwisata Berkelanjutan: Lebih dari Sekadar Laku
Membangun pariwisata Lampung ke depan harus berbasis pada manajemen risiko. Kita butuh:
Keindahan Lampung tidak boleh dicoreng oleh berita duka yang sebenarnya bisa dicegah. Kita ingin wisatawan pulang membawa memori indah, bukan duka yang mendalam. Pariwisata yang hebat adalah pariwisata yang memuliakan keselamatan pengunjungnya. Jangan sampai “Gawai” yang digunakan untuk berswafoto justru menjadi saksi bisu hilangnya nyawa akibat kelalaian sistemis yang kita anggap remeh.
Sudah saatnya seluruh pemangku kepentingan di Lampung duduk bersama: Apakah kita sedang membangun pariwisata yang berkelanjutan, atau sekadar menjual bahaya yang dibungkus dengan keindahan alam?. ****