
Kota Metro, sinarlampung.co – Sore itu, langit di Gang Subur, Kelurahan Hadimulyo Barat, tampak lebih redup dari biasanya. Di sebuah rumah sederhana di wilayah RW 05, waktu seolah berhenti berputar bagi Ismail (55). Pria yang setiap harinya berpeluh peluh di aspal jalanan sebagai juru parkir itu, kini terduduk lesu. Harapannya, mimpinya, dan kebanggaannya—Bunga Rosana (23)—pulang dalam balutan kain kafan.
Bunga bukan sekadar mahasiswi semester akhir di Fakultas MIPA Universitas Lampung. Di kalangan rekan-rekan dan dosennya, ia adalah oase prestasi. Di balik kesederhanaan status ayahnya, Bunga adalah permata yang bersinar di ajang MTQ tingkat Provinsi Lampung. Dua tahun berturut-turut, 2025 dan 2026, namanya harum sebagai juara. Ia adalah seorang Hafizah, penjaga ayat-ayat Tuhan dalam ingatannya.
Senyum Terakhir di Aliran Wira Garden
Rabu 1 April 2026 siang, niat hati hanya ingin melepas penat dari tumpukan tugas akhir kampus. Bunga bersama rekan-rekannya memilih Wira Garden sebagai pelarian sejenak. Namun, takdir berkata lain. Air bah yang datang tiba-tiba dari hulu mengubah tawa menjadi teriakan histeris.
Rika, salah satu rekan yang selamat, menceritakan momen mencekam itu dengan suara bergetar. Sebuah “rantai manusia” sempat terbentuk. Rika menarik Damayanti, Damayanti memegang erat Fatmawati, dan Fatmawati mencoba sekuat tenaga menahan Bunga.
”Kami saling beruntai agar bisa menjangkau tangan Fatma dan Bunga. Namun Fatma melepaskan uluran tangan karena sudah tidak kuat mencengkeram derasnya arus,” kenang Rika.
Di tengah kepanikan itu, Rika berteriak meminta tolong, namun ia menyebut tak ada satu pun petugas pengelola yang datang membantu hingga maut menjemput kedua sahabatnya.
Kepulangan Sang Hafizah
Kamis siang, setelah pencarian panjang oleh tim gabungan Basarnas dan BPBD, jasad Bunga ditemukan di Muara Pulau Pasaran. Meski telah berjam-jam hanyut hingga ke Teluk Betung Barat, tubuh sang penghafal Al-Qur’an itu tampak utuh. Tak ada luka sedikit pun yang terlihat, seolah semesta menjaga jasadnya dengan sangat hati-hati.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FMIPA Unila, Junaidi, tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada sosok almarhumah. “Dia mahasiswi yang cerdas dan bersahaja. Pernah menjadi wakil MIPA untuk MTQ tingkat universitas,” ujarnya singkat namun penuh makna.
Tepat saat azan Magrib berkumandang, Kamis (2/4/2026), jenazah Bunga diturunkan ke liang lahat di Pemakaman Umum 22, Hadimulyo Barat. Ia kini beristirahat dengan tenang, berdampingan dengan mendiang neneknya.
Bagi Ismail, sang ayah, Bunga adalah bukti bahwa anak seorang juru parkir bisa terbang tinggi dan mencatatkan nama di deretan mahasiswa terpilih. Meski kini langkah Bunga terhenti sebelum toga sempat ia kenakan, bagi keluarga dan kerabatnya, Bunga telah lulus dengan nilai terbaik di hadapan Sang Pencipta.
Selamat jalan, Bunga Rosana. Mahkota cahaya yang kau simpan dalam hafalanmu, semoga menjadi peneduh bagi ayahmu di sana.
Oleh: Juniardi
Pemred SINARLAMPUNG.CO