
Kota Metro, sinarlampung.co – Suasana hangat, haru, dan penuh kekeluargaan menyelimuti Cafe Aceh Nangro, Kota Metro, pada Rabu 25 Maret 2026. Puluhan alumni SMP YPI 2 Kota Metro berkumpul kembali dalam sebuah pertemuan lintas generasi yang menjadi momentum refleksi diri di usia matang.
Acara yang berlangsung sejak siang hari ini menghadirkan kembali memori masa sekolah yang telah terlewati lebih dari tiga dekade silam. Para alumnus yang kini telah menempuh jalan hidup berbeda-beda, tampak melebur tanpa sekat dalam canda tawa dan obrolan hangat.
Ketua Alumni SMP YPI 2 Metro, Juniardi, S.I.P., S.H., M.H., dalam sambutannya mengajak rekan-rekan sejawatnya untuk merenungkan makna perjalanan hidup yang telah memasuki usia kepala lima. “Dulu kita bertemu di YPI 2 Metro dengan seragam yang sama dan cita-cita yang menggebu. Kini, kita kembali bertemu dengan pengalaman hidup yang berbeda-beda,” ujar Juniardi yang akrab disapa Ijust.
Beliau menekankan bahwa di masa purnabakti ini, orientasi kekayaan telah berubah. “Setengah abad lebih telah mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati bukanlah apa yang kita miliki, melainkan siapa yang masih setia berjalan di samping kita—termasuk sahabat-sahabat lama,” imbuhnya yang disambut haru oleh para peserta.
Juniardi menyebut latar belakang profesi alumni sangat beragam, mencakup akademisi, politisi, praktisi bidang khusus (penyiaran/administrasi), hingga wirausahawan, yang mencerminkan keberhasilan sekolah.
“Kita alumni berperan sebagai support system yang mentransfer keahlian praktis, menjadi jembatan ke dunia kerja, serta berkontribusi langsung pada pembangunan melalui keilmuan,” katanya.
Senada dengan hal tersebut, Aswin, salah satu peserta alumni, menyampaikan apresiasi mendalam atas komitmen rekan-rekan yang tetap menjaga jalinan komunikasi. Menurutnya, silaturahmi dan sikap saling tolong-menolong adalah dua pilar penting dalam kehidupan sosial.
“Menjaga silaturahmi berfungsi untuk mempererat persaudaraan (ukhuwah) dan menciptakan harmonisasi masyarakat. Ini adalah ajaran penting yang harus terus kita rawat,” ungkap Aswin di sela-sela acara.
Momen Haru: Permohonan Maaf dari Keluarga Guru
Suasana semakin emosional saat Sandi, yang hadir mewakili Ayahnya (mantan Guru BP SMP YPI 2 Metro masa itu), menyampaikan pesan khusus. Sandi mengungkapkan permohonan maaf dari sang ayah jika selama masa sekolah dulu terdapat interaksi yang kurang berkenan, terutama saat menjalankan tugas mendisiplinkan siswa.
“Saya mewakili Ayah memohon maaf jika selama di sekolah dulu banyak kawan-kawan yang pernah dihukum karena kenakalan atau hal lainnya. Semoga kita semua dipanjangkan umur dan tetap bisa menjaga hubungan baik ini,” tutur Sandi.
Mengusung semangat “Menanam Kebaikan, Memanen Kedamaian“, reuni ini ditutup dengan harapan agar seluruh alumni dapat menjadi figur orang tua yang bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan.
“Semoga grup alumni tidak hanya ramai saat reuni, tapi tetap menjadi wadah saling sapa setiap hari. Mengingat usia, semoga kita bisa saling mengingatkan untuk meningkatkan bekal akhirat,” tutup Juniardi dalam rangkaian acara tersebut.
Pertemuan di Cafe Aceh Nangro ini menjadi bukti nyata bahwa meskipun raga tak lagi muda, semangat “Pejuang Kehidupan” alumni SMP YPI 2 Metro tetap menyala demi menjaga nyala api persahabatan yang telah dibangun sejak masa sekolah. (Red)