
Bandar Lampung, sinarlampung.co – Matahari di atas TPU Beringin Raya, Kemiling, terasa begitu syahdu pada Senin siang itu. Di bawah naungan pohon-pohon rindang dekat SMPN 13, tanah Bandar Lampung perlahan memeluk tubuh Syamsul B. Nasution—sosok yang selama puluhan tahun justru “menghidupkan” banyak pena di tanah Lampung ini.
Minggu malam, 15 Februari 2026, menjadi akhir dari perjalanan panjang seorang lelaki yang lahir di Sumatera Utara, besar di Bandung, namun memilih menghibahkan napas terakhirnya untuk marwah pers Lampung. Ia bukan sekadar wartawan; ia adalah kurator kata, arsitek redaksi, dan yang terpenting: seorang mentor yang bekerja dalam sunyi.
Pena, Integritas, dan Meja Gaple
Bagi mereka yang mengenalnya, Bang Syamsul—begitu ia akrab disapa—adalah kombinasi unik antara ketegasan profesional dan kehangatan personal.
Ilham Jamhari, wartawan Media Indonesia Biro Lampung, mengenang almarhum bukan hanya dari balik meja redaksi Lampung Post, melainkan dari meja gaple di kediaman almarhum di Jalan Lindu. “Hampir tiap malam kami main gaple. Di bulan puasa, bisa semalam suntuk menyambung sampai sahur yang disiapkan istrinya,” kenang Ilham.
Bagi Ilham, Syamsul adalah sahabat yang tulus. Kedekatan itu bahkan membuat Ilham diberi kepercayaan memberi nama putri almarhum, Firda Nasution. “Selamat jalan Sobat menuju Sang Khalik. Semoga husnul khotimah,” tuturnya lirih.
Membangun Martabat dari Titik-Koma
Di mata para junior yang kini telah menjadi tokoh pers, Syamsul adalah standar emas. Rozali Umar dari LAKH PWI mengenang masa-masa di Lampung Post dan SKH Trans Sumatera. Bagi Rozali, Syamsul adalah mentor yang menanamkan dua rukun utama: kemahiran merangkai kata dan integritas kode etik.
“Dari beliau, saya memahami bahwa wartawan dan advokat punya nafas yang sama: kata-kata yang tepat dan integritas yang tinggi,” ujar Rozali.
Senada, Herman Bathin Mangku menggambarkan Syamsul sebagai “Sang Konseptor”. Syamsul adalah orang yang dikirim Surya Persindo Group milik Surya Paloh untuk membenahi Lampung Post menjelang milenium baru. Ia tak hanya mempercantik tata letak koran, tapi juga menaikkan harga diri wartawan dengan kesejahteraan yang layak.
“Bagi beliau, jurnalisme bukan hanya soal berita, melainkan martabat,” tulis Herman. Jejak pikirannya tertanam di gedung Lampung Post, di keberanian Trans Sumatera, hingga di masa depan digital Lampung TV.
Pimpinan yang Berkorban: Sertifikat Rumah untuk Gaji Karyawan
Kesan mendalam juga datang dari mereka yang pernah dipimpinnya di era televisi lokal. Seorang mantan reporter Lampung TV Abdul Wahab mengenang bagaimana Syamsul adalah pemimpin yang “tidak pelit ilmu”. Ia rela mengevaluasi karya satu per satu, mengeditnya secara detail, dan mengirimkannya kembali via email demi kemajuan anak buahnya.
Namun, satu hal yang tak akan pernah dilupakan adalah kepeduliannya terhadap kesejahteraan. “Beliau rela menggadaikan sertifikat rumahnya di Rajabasa demi menalangi gaji karyawan yang sempat tertunggak,” kenang Wahab. Bagi mereka, Syamsul bukan sekadar bos, tapi pelindung.
Ego yang Rendah di Hadapan Ilmu
Meski sudah menyandang status “Suhu”, Syamsul tetaplah seorang pembelajar. Iskandar Zulkarnaen, mantan Pemred Lampung Post dan Ahli Pers Lampung, teringat momen UKW Utama tahun 2018.
“Abang dengan rendah hati mengikuti ujian walaupun sudah sangat berpengalaman. Beliau menurunkan ego dan menunjukkan ketulusan yang luar biasa,” kenang Iskandar.
Obsesi Terakhir yang Belum Usai
Hingga napas terakhir mendekat, api kreativitas Syamsul tak pernah padam. Lewat telepon di dini hari, ia sempat berbagi mimpi terakhir kepada sahabatnya: membangun lembaga pendidikan jurnalistik di Jatiagung, Lampung Selatan.
Ia ingin mencetak generasi jurnalis baru yang tak hanya mahir teknologi, tapi juga teguh pada etika. “Mudah-mudahan yang terakhir ini, Man,” ujarnya lirih dalam percakapan telepon terakhir dengan Herman Bathin Mangku. Proyek itu sudah rampung 80 persen, namun Tuhan memiliki rencana lain.
Kini, pesan WhatsApp yang dikirimkan para sahabat kepadanya hanya menyisakan dua centang abu-abu yang tak akan pernah berubah menjadi biru. Bang Syamsul telah pergi, namun di setiap baris berita yang ditulis dengan jujur dan berani di Lampung, di situlah ia tetap hidup.
Selamat jalan, Sang Mentor. (Juniardi)