
Jakarta, sinarlampung.co – Pianis dan komponis Indonesia, Ananda Sukarlan, dijadwalkan mengunjungi Lampung untuk berbagi pengetahuan melalui rangkaian kegiatan musik klasik. Pendiri Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) itu akan memberikan masterclass, seminar, serta sesi diskusi santai bertajuk “Ngobras” (Ngobrol dengan Ananda Sukarlan).
Kunjungan ini menjadi kabar baik bagi komunitas musik klasik di Lampung. Pada 2025 lalu, sejumlah pianis muda dari daerah tersebut berhasil meraih prestasi di ajang KPN+ tingkat nasional.
Ananda dijadwalkan berada di Bandar Lampung selama tiga hari, 15-17 April 2026. Ia juga membuka kemungkinan mengunjungi kota lain di provinsi tersebut jika diperlukan. Seluruh kegiatan diselenggarakan oleh mitra KPN+ di Lampung, Amadeus Piano Course, dan terbuka untuk umum.
Pendiri Amadeus, Lily Thung, mengatakan awalnya ia hanya mengundang Ananda untuk memberikan masterclass. Namun tingginya minat guru musik dan orang tua siswa untuk berdiskusi mendorong penambahan agenda “Ngobras”.
“Awalnya saya hanya mengundang Ananda untuk memberi masterclasses,” kata Lily kepada sinarlampung.co, Jumat (13/2/2026).
Ia menambahkan, sesi diskusi tersebut dijadwalkan berlangsung sehari sebelum kelas utama, yakni 15 April pukul 15.30 WIB di Rumah Kayu, Jalan Arif Rahman Hakim, setelah Ananda tiba di Bandar Lampung.
Dalam kesempatan terpisah, Ananda menjelaskan tema “Ngobras” bersifat terbuka, mulai dari pendidikan, musik, karier, kecerdasan buatan, hingga topik autisme. Ia menyebut dirinya penyandang Asperger’s Syndrome dan siap berbagi pengalaman.
Ia menegaskan pentingnya pendidikan musik dasar. Menurutnya, peran guru musik pemula tidak bisa diremehkan karena menjadi fondasi teknik bermain instrumen dan pola pikir musikal.
“Pendidikan musik dasar itu tidak kalah penting dengan pendidikan musik tingkat tinggi. Jangan anggap remeh guru piano untuk pemula,” tegasnya.
Ananda mencontohkan pengalamannya saat berusia 18 tahun menempuh studi di Royal Conservatoire Den Haag. Ia mengaku teknik dan konsep musiknya saat itu masih kacau, hingga mendapat perhatian dosennya, Naum Khaimovich Grubert.
Selama enam bulan pertama, ia fokus memperbaiki teknik dasar seperti posisi duduk dan tangan. Seiring waktu, konsep artistik yang benar mulai terbentuk menggantikan kebiasaan yang keliru.
Ia menilai format “Ngobras” lebih efektif dibanding ceramah formal bagi audiens yang beragam. Bahkan ia mengusulkan judul “Ask Ananda Anything (AAA)” agar diskusi lebih terbuka.
Selain berbagi ilmu, Ananda berharap kunjungan ini menjadi kesempatan mempelajari kondisi pendidikan musik di Lampung, berinteraksi dengan guru musik setempat, sekaligus menikmati suasana daerah.
Terkait KPN+ 2026, pianis kelahiran 10 Juni 1968 itu menyebut perkembangan kompetisi melampaui ekspektasi. Pada 2025, jumlah peserta mencapai 587 orang dari 11 kota dengan kualitas yang meningkat pesat.
Ia menambahkan, wilayah yang sebelumnya jarang terdengar dalam peta musik klasik termasuk Lampung, kini mulai menunjukkan potensi. Bahkan pemenang final Desember mendatang berpeluang mengikuti program studi tur ke Sydney pada 2027 bekerja sama dengan Australian Institute of Music, tempat ia menjadi Composer in Residence.
Pendaftaran KPN+ kini telah dibuka. Untuk Lampung, seleksi dijadwalkan berlangsung 18 Oktober 2026, sementara final nasional digelar di Jakarta pada 11-12 Desember.
Ananda berharap peserta tidak hanya berasal dari Bandar Lampung, tetapi juga dari kota sekitar seperti Metro. Ia juga mengingatkan bahwa kata “plus” dalam kompetisi tersebut menandakan keterbukaan bagi seluruh instrumen dan vokal klasik, termasuk kategori vocal ensemble yang baru diperkenalkan tahun ini.
“Semoga makin banyak yang terlibat,” ujarnya optimistis. (Red)