Oleh: Juniardi
Ada ironi tragis yang kini menghantui wajah negeri ini. Di satu sisi, kita melihat deretan pejabat yang mengenakan rompi oranye KPK memiliki gelar akademik yang mentereng—mulai dari Sarjana, Magister, hingga Doktor. Di sisi lain, kampus-kampus terus mewisuda ribuan sarjana setiap tahunnya dengan klaim mencetak “pemimpin masa depan.”
Jika pendidikan tinggi adalah kawah candradimuka moralitas dan intelektualitas, mengapa ia justru menjadi rahim bagi para pencuri uang rakyat? Jawabannya mungkin tidak terletak pada kurikulum antikorupsi yang kurang jam ajar, melainkan pada ekosistem pendidikan itu sendiri yang telah rusak secara fundamental.
Kita harus berani mengakui bahwa institusi pendidikan kita sedang sakit. Diagnosa atas penyakit ini dapat dirangkum dalam realitas. Misalnya pendidikan tinggi hari ini kian menjauh dari hakikatnya sebagai ruang pendewasaan nalar.
Kampus dibangun dengan logika efisiensi dan laba, sementara mahasiswa diposisikan sebagai pembeli masa depan. Yang dikejar bukan lagi pemahaman, melainkan kelulusan; bukan proses berpikir, melainkan sertifikat. Gelar menjadi tujuan akhir, seolah makna belajar bisa diringkas dalam selembar kertas berstempel resmi.
Dalam praktik sehari-hari, gejala ini terasa nyata dan sunyi. Mahasiswa menghitung biaya dan peluang kerja, bukan kedalaman ilmu. Dosen dituntut menyenangkan “pelanggan”, bukan menantang pikiran. Kampus sibuk menjual citra, akreditasi, dan jargon kesiapan industri, sementara ruang dialog kritis makin menyempit. Pendidikan kehilangan watak humanisnya: manusia direduksi menjadi angka, IPK, dan daya saing pasar.
Kalimat ini adalah peringatan keras yang disampaikan dengan tenang. Ketika pendidikan tunduk sepenuhnya pada logika bisnis, ia berhenti membebaskan dan mulai melatih kepatuhan. Kampus yang seharusnya melahirkan kesadaran justru mencetak kelulusan massal tanpa kedalaman.
Dari Transaksional Menuju Koruptif
Apa yang salah dari pergeseran makna pendidikan di atas? Ketika pendidikan direduksi menjadi sekadar transaksi ekonomi (membayar uang kuliah untuk membeli ijazah), maka mentalitas yang terbangun adalah mentalitas “balik modal” (return on investment). Inilah benih korupsi yang paling halus namun mematikan.
Pertama ada normalisasi jalan pintas. Ketika “gelar” lebih penting daripada “proses”, mahasiswa terbiasa mencari jalan pintas. Fenomena joki skripsi, plagiarisme, dan “titip absen” adalah latihan kecil korupsi. Jika di kampus mereka belajar bahwa integritas bisa dikompromikan demi nilai A, maka di birokrasi mereka akan belajar bahwa aturan bisa ditekuk demi proyek.
Kedua, hilangnya kepekaan etis. Pendidikan yang berorientasi pasar hanya mengajarkan bagaimana melakukan sesuatu (kompetensi teknis), tetapi lupa mengajarkan mengapa hal itu harus dilakukan (pertimbangan etis). Kita melahirkan ahli hukum yang pandai memelintir pasal, akuntan yang lihai memanipulasi neraca, dan insinyur yang tega mengurangi spesifikasi bangunan. Mereka cerdas, tapi nir-empati.
Ketiga, logika dagang dalam jabatan. Yaitu mahasiswa yang dididik sebagai “pelanggan” akan tumbuh menjadi pejabat yang melihat rakyat sebagai “klien” atau “sumber daya”. Jika biaya pendidikan dianggap sebagai investasi modal, maka jabatan publik dianggap sebagai lahan untuk mengeruk keuntungan pribadi. Logika pengabdian mati, digantikan oleh logika profit.
Mengembalikan Kiblat Kampus
Korupsi yang dilakukan oleh kaum terdidik adalah bukti bahwa kepintaran tanpa karakter adalah bencana. Kampus tidak boleh lagi sekadar menjadi pabrik tenaga kerja atau stempel legitimasi status sosial. Reformasi pendidikan tinggi tidak cukup hanya dengan mengubah kurikulum. Kita perlu meruntuhkan mentalitas industrialisasi pendidikan. Dosen harus kembali menjadi resi yang menanamkan nilai, bukan sekadar buruh pengajar yang mengejar target administrasi.
Mahasiswa harus kembali menjadi pembelajar yang resah akan ketidakadilan, bukan sekadar pemburu IPK. Selama pendidikan tinggi masih tunduk pada logika bisnis dan mengabaikan pembangunan watak manusia, selama itu pula kita akan terus menyaksikan parade koruptor bergelar akademik, yang merampok negara dengan senyum santun dan argumen yang fasih.Tabik.