
Namun, di balik keindahan perbukitan yang asri, tantangan geografis selalu menjadi ujian nyata bagi mobilitas warga. Tahun 2025 menjadi titik balik penting. Di bawah kepemimpinan priode ke dua Bupati Parosil Mabsus, Lampung Barat sedang bersolek, menyelaraskan langkah dengan visi besar Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung, Mirza-Jihan. “Pembangunan itu harus menyentuh hingga ke ujung pekon,” ungkap Parosil saat meninjau progres infrastruktur di pertengahan Desember 2025 lalu.
Di tengah keterbatasan anggaran, kreativitas menjadi kunci. Mengandalkan dana Inpres Jalan Daerah (IJD), ruas Sekincau-Waspada yang dulu sulit dilalui kini kian mantap. Hingga akhir tahun, progres konektivitas mencapai angka 74%. Di Suoh, pembangunan jalan sepanjang 1,2 KM di Pekon Tugu Ratu menjadi bukti nyata. Infrastruktur bukan sekadar aspal, melainkan jembatan bagi petani kopi untuk membawa hasil bumi mereka ke pasar dengan biaya angkut yang lebih murah.
Di sektor ekonomi, napas “Beguai Jejama” (bekerja bersama) diwujudkan melalui pembentukan 135 Koperasi Merah Putih. Ini bukan sekadar organisasi, melainkan benteng pertahanan ekonomi rakyat. Progresnya sudah mencapai 70%, menunggu pengesahan untuk mulai menggerakkan roda ekonomi desa.
Inovasi juga merambah ke dahan-dahan kopi. Melalui teknik grafting atau sambung pucuk, tanaman kopi tua kembali produktif. Petani kini tak lagi hanya menanam, tapi juga diedukasi di Sekolah Kopi, sebuah pusat pembelajaran yang menjadikan Lampung Barat sebagai sentra kopi nasional yang modern.
Parosil memahami bahwa masa depan Lampung Barat tidak hanya bergantung pada tanah yang subur, tapi pada otak yang cerdas. Program “Satu Rumah Satu Sarjana” dan beasiswa kedokteran menjadi tumpuan bagi anak-anak petani untuk meraih mimpi.
“Kami ingin anak-anak terbaik kami kembali dan membangun daerahnya sendiri,” tegasnya. Hal ini sejalan dengan kebijakan penghapusan pungutan komite SMA/SMK yang diselaraskan dengan program provinsi.
Di sisi lain, modernisasi pelayanan publik melalui Mal Pelayanan Publik (MPP) mulai menghapus sekat birokrasi. Meski sinyal seluler masih menjadi tantangan di balik perbukitan, semangat digitalisasi di 131 Pekon terus dipacu agar warga bisa mengakses layanan pemerintah cukup dari rumah.
Menjelang tahun 2026, harapan besar digantungkan pada pundak duet Mirza-Jihan. Sebagai sosok dengan latar belakang pengusaha, Gubernur Mirza dinilai paham betul bagaimana membangun konektivitas antar-kabupaten yang akan membuka isolasi wilayah.
Lampung Barat kini bukan lagi sekadar daerah dingin di ujung Lampung. Dengan modal stabilitas anggaran, kekayaan energi terbarukan di Suoh, dan semangat gotong royong, “Negeri di Atas Awan” ini sedang terbang lebih tinggi menuju masyarakat yang mandiri dan sejahtera. (Juniardi)