
Bandar Lampung, sinarlampung.co – Gelombang aksi massa diprediksi bakal memanas di Kota Bandar Lampung pada Selasa, 16 September 2025. Aliansi Anti Narkoba Provinsi Lampung resmi melayangkan surat pemberitahuan aksi unjuk rasa besar-besaran ke Polresta Bandar Lampung.
Surat itu ditandatangani oleh Ketua Aliansi, Destra Yudha bersama Jenderal Lapangan, Herman. Mereka menyatakan akan mengerahkan lebih dari 1.500 orang dalam aksi menuntut penegakan hukum atas kasus narkoba yang menyeret sejumlah orang penting di Lampung.
Massa akan memulai aksi dari Bundaran Tugu Adipura lalu long march menuju kantor BNN Provinsi Lampung. Mereka membawa mobil komando, sound system, spanduk, hingga ratusan kendaraan roda dua untuk mengawal jalannya demonstrasi.
Aksi ini bermula dari penggerebekan BNN Provinsi Lampung di Hotel Grand Mercure Bandar Lampung pada akhir Agustus 2025. Dalam operasi tersebut, petugas mengamankan 11 orang, termasuk 5 pengurus HIPMI Lampung yang tengah pesta narkoba dengan sejumlah rekannya.
Dari hasil tes urine, 10 orang dinyatakan positif narkotika. Selain itu, petugas menemukan tujuh butir pil ekstasi sebagai barang bukti. Meski demikian, kelima pengurus HIPMI yang terjaring operasi tidak ditahan, melainkan hanya dikenai rehabilitasi jalan dan wajib lapor setelah melalui asesmen terpadu bersama aparat hukum dan medis.
Langkah tersebut menuai kritik keras. Aliansi menilai publik berhak mengetahui siapa saja yang terlibat dan menuntut agar BNN tidak pilih kasih.
“Jangan sampai hukum hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Jika benar ada pengurus HIPMI yang terjerat narkoba, BNN wajib segera menahannya, bukan dilindungi!” tegas pernyataan dalam surat tersebut.
Organisasi HIPMI Lampung sendiri akhirnya menonaktifkan kelima pengurus yang terlibat. Mereka antara lain RML (Bendahara), S (Ketua Bidang 1), MRP (Ketua Bidang 3), serta dua anggota, WM dan SA. Keputusan itu diambil untuk menjaga nama baik organisasi di tengah sorotan publik.
Isu keterlibatan pengurus HIPMI dalam kasus narkoba dianggap sebagai tamparan keras bagi citra pengusaha muda Lampung. Alih-alih menjadi teladan, kasus ini justru mencoreng wajah organisasi yang seharusnya membawa semangat positif bagi generasi muda.
Kini publik menanti sikap BNN Lampung. Apakah berani mengambil langkah tegas terhadap para pelaku, atau justru memilih bungkam di tengah tekanan ribuan massa yang siap mengepung kantor mereka. (*)