
Cilegon (SL)-Warning dalam proses penerimaan calaaon IPDN itu itu. Hal itu diakui juga Nurhayati, salah satu orang tua Capra IPDN yang digagalkan dari Kabupaten Maros provinsi Sulawesi Selatan. Dirinya akan melayangkan surat keberatan ke IPDN di Jakarta.
Nurhayati mendapat info bahwa ada salah satu orang tua Capra yang tidak lolos dari daerah provinsi Banten dari Pemberitaan media siber, yang juga tersebar di medsos. Dan itu membuat semangat baginya. Nurhayati mengatakan pada hari Jumat 30/8/19 ada 5 Orang dari delagasi Sumsel dipanggil ke Balairung ESG, FR MAN, MF, dan MIA.
Mereka di minta pemeriksaan ulang kesehatan karena ada masalah dengan kesehatannya, tapi nyatanya di loloskan, sedangkan anak saya tidak ada diantara 5 orang tersebut. “Sedangkan anak saya tahap CAT. (computer assisted tes) posisi ke 6 Se Sulawesi Selatan, tahap kesehatan di peringkat ke 10,” terang Nurhayati
“Saya minta tolong KPK dan Menpan mengusut kasus manipulasi dan kecurangan yang terjadi pada saat perekrutan CAPRA IPDN,saya sdh IG KPK,sejauh ini belum ada respon,” imbuhnya
Menurut Nurhayati, anak dinyatakan tidak lolos seleksi karena tangan berkeringat pada saat test kesehtan (padahal itu nerveous), tapi anak anak yang kasat mata pendek gemuk, gigi tanggal 1, bahkan ada yang diadakan pemeriksaan ulang kesehatannya malah di luluskan. “Setahu saya aturan di IPDN tinggi dan berat harus ideal tapi semua itu tidak ada artinya. Karena mereka memiliki uang dan orang dalam,” ujar nya.
Hal yang sama diakui, Saroni, salah satu orangtua Capra dari Kalimantan Timur yang tidak diloloskan. Dia ikut angkat bicara. Dia juga bersedia bersaksi tentang kecurangan SPCP. “Anak saya tidak diwarning tapi tidak lolos dengan alasan buta warna total padahal dari daerah anak saya inisial DID urutan 7 dari 36 Capra. Yang diwarning ada 2 ASA dan NAT dan NAT ini adalah urutan paling bawah dari daerah tapi diloloskan, jadi yang tidak lolos itu hanya anak saya dari Prov Kaltim,” kata Saroni.
Saroni juga mengatakan akan berjuang bersama Badia Sinaga utk melawan ketidakadilan,kecurangan kedzoliman utk perbaikan bangsa generasi kedepan imbuhnya.
Ketua Panitia SPCP tahun 2019, Hironimus Rowa mengatakan bahwa kegiatan hari Jumat tgl 30/8/19 adalah “Pemeriksaan penampilan fisik bagi Capra yang ada catatan,”. Tapi nyatanya fakta dilapangan yang tidak ikut pemeriksaan penampilan fisik bagi Capra yang ada catatan. Malah dinyatakan tidak lolos seperti HR dari Banten, DID dari Kaltim dan MA dari Sulsel.
Sebelumnya pemberitaan dari Delagasi Banten yg berjumlah 35 orang berangkat ke Jatinangor Sumedang Jabar ,6 orang dipanggil Jumat 30/8/19 Kebalairung yang berinisial ZN, RIF, MAP, AM, NFR, GN, bahkan AM adalah no urut dari 46 dari 47 tahapan kesehatan di daerah.
“Dari 6 orang ini 4 dinyatakan lolos dan 2 dinyatakan tidak lolos dan anak saya di masukkan tidak lolos untuk memenuhi Kouta Banten,padahal anak saya tidak ikut dalam Pemeriksaan penampilan fisik bagi Capra yang ada catatan,” kata Badia
Sejauh ini sudah sejauh mana respon dari Pihak Rektor IPDN yang mengatakan tidak ada istilah Warning, diminta juga kementrian dalam negeri untuk turun tangan dalam info ini. “Jangan hanya terima laporan dari Bawahan saja,dari Masyarakat juga harus di Respon.” katanya Badia Sinaga, (Suryadi)