
Banten (SL)-Proyek Jalan Pulo-Gosara senilai Rp4.5 miliar yang di kerjakan oleh PT Berkat Anugerah Perkasa Pratama sepanjang 1.7 KM dengan lebar 4 Meter, diduga siluman. Tidak jelas siapa pelaksana dan sumber anggarannya. Akibatnya terindikasi proyek itu asal jadi dan rawat korupsi.
Pemerhati Pembangunan Kabupaten Serang B.Gultom mengatakan bahwa dalam pekerjaan proyek itu di duga dananya bersumber dari dana siluman. Sebab di dalam papan nama pekerjaan sumber dana tidak ada dan konsultan pengawas juga tidak ada. “Ini Proyek siluman. Marak proyek mirip filem mak lampir. Tidak jelas, suka suka, dan tidak trnasfaran,” kata B Gultom, kepada sinarlampung.com, Rabu (31/7).
Menurut Gultom, dia sempat berada di lokasi pekerjaan, menyaksikan langsung. “Waktu itu Rabu malam kalau tanggal 17 Juli 2019. Saya kebetulan ada di lokasi pekerjaan. Saya melihat ada mobil truck Mixer T-501 dengan nomor polisi B-9132-SIN. Waktu itu hendak menghampar semen untuk mengecor jalan yang di sebut rigid beton,” katanya.
“Anehnya pavementnya tampak keras dan mengeluarkan asap ketika di tumpahlan ke Mixer. Ada lagi yang sangat di sayangkan bahwa cor beton itu tidak dipadatkan dengan alat vibrator. Ada lagi kejanggalan bahwa truck ketiga saat akan mengecor ditambah air. Ini jelas sudah tidak benar dan kualitas rigid betonnya tidk bagus,” tuturnya.
Menurut Gulton, dirinya pernah menanyakan kepada pihak PT Berkat Anugrah Pertama itu. “Saya pernah tanyakan ke pihak perwakilan PT Berkat Anugerah Pratama saat itu saya ketemu pria bernama Rizal. Dia mengatakan bahwa dirinya hanya penerima surat jalan saja bukan pelaksana,” jelaS B.Gultom.
“Saya pernah tanyakan ke konsultan namanya Bambang, bahwa beton yang sudah di gelar dan tidak menggunakan xoncrete vibrator tinggal menunggu hasil uji laboratorium. Karena yang bisa menentukan kepdatan adalah hasil uji laboratorium,” katanya.
Gultom mengaku prihatin dengan pembangunan di Kabupaten Serang. Karena sudah jaman begini masih saja ada yang main main dengan anggaran negara. Anggaran yang di gelontorkan miliaran rupiah hanya menjadi proyek asal jadi dengan kualitas “amburadul”. Ironisnya pelaksana dan sumber kegiatan dan anggaran bak siluman, tidak jelas keberadaannya.
Pemerhati pembangunan Kabupaten Serang B Gultom kepada sinarlampung.com di Serang, menyatakan dirinya juga menemukan beberapa pekerjaan proyek yang di kerjakan asal jadi. Dia mencontohkan pda pekerjaan irigasi ciasem di Desa Mancak, yang kini masih di sidik oleh aparat kepolisian dari Polres Cilegon. Pada kasus pekerjaan di irigasi Ciasem, Desa Mancak itu polisi telah memeriksa berapa pejabat terkait.
“Berdasarkan informasi investigasi yang di dapar proyek itu dikerjakan oleh oknum dinas itu sendiri serta, dan sudah di perjual belikan hingga tiga pihak yang mengakibatkan buruknya hasil kerjaan. Akibatnya pemilik pekerjaan harus merogoh koceknya guna membenahi pekerjaan yang belum selesai, sedangkan pemilik utama pekerjaannya entah kemana,” kata B Gultom. (Suryadi)